Sejarah Agama di Belitung terkait dengan imigrasi penduduk ke pulau ini. Pemurnian Agama Islam dalam penyebarannya terhadap penduduk setempat dimulai pada saat masuknya mubaligh-mubaligh dari pasai dan johor karena sebelumnya Agama Islam yang ada masih menggunakan praktek perdukunan dan mistis pada masa kerajaan Balok. Kecuali penyebaran terhadap suku laut yang masih terpengaruh dengan animisme.

AGAMA ISLAM
      
       Agama Islam masuk ke pulau Belitung pada masa masa pemerintahan Cakraningrat I bernama Kiai Agus Masud atau Kiai Agus Gedeh Ja'kub dan memerintah dari tahun 1618-1661 yang berasal dari keturunan bangsawaan Jawa dari Kerajaan Mataram Islam.Ia merupakan raja pertama dari kerajaan kedua yang ada di Belitung bernama kerajaan Balok.
      
       Pada masa pemerintahan Depati Cakraningrat IV ini, Agama Islam mulai tersebar di Pulau Belitung. Salah satu penyebar Agama Islam waktu itu adalah Datuk ahmad atau Tuk Mempawah, diawali ketika beliau dari Malaka hendak pulang ke Kalimantan, karena angin ribut, perahu beliau berlindung di Teluk Gembira Belitung dan menjumpai penduduk daratan (pada masa itu penduduk pinggiran laut sudah ada; yang disebut urang Laut, penduduk daratannya di sebut Urang Darat).
      
       Datuk Ahmad terkesan dengan bahasa penduduk daratan itu yang mirip bahasa penduduk semenanjung Malaya, namun kebanyakan penduduknya masih menganut agama tradisi yaitu animisme yang dipimpin oleh dukon kampong (adat tradisi ini adalah wewenang yang diberikan oleh Cakraninggrat ke II, Ki Mending atau KA Abdullah).
      
       Kemudian beliau menetap dan mengajarkan agama Islam di kawasan tersebut. Itulah mengapa sebabnya Datuk Ahmad diberi kewenangan atau otoritas di wilayah Belantu oleh Depati Cakraningrat ke III yaitu KA Gending untuk menjadi ngabehi. Dan diberi hak menjadi ngabehi di wilayah tersebut hingga turun-temurun.
      
       Kemudian setelah ki gending wafat dan digantikan oleh Kiai Agus Bustam (Depati Cakraningrat IV). Ki agus Bustam pada pada tahun 1705 pada masa pemerintahan Datuk Ahmad diberi pangkat ngabehi dengan sebutan Ngabehi Suro Yudho.
      
       Pada saat itu Datuk Ahmad termasuk seorang mubaliq yang disenangi oleh beliau karena ajaran Datuk Ahmad masih toleran dengan ajaran tradisi setempat, acara ritual perdukunan tak begitu diharamkan oleh Datuk Ahmad.
      
       Pada Masa tersebut, Islam yang dibawa para mubaliq Pasai cenderung hendak memurnikan ajaran Islam yang sesungguhnya (Islam dari Jawa yang dibawa oleh Datuk Mayang Geresik atau Ki Ronggo Yudho sudah tak murni lagi ketika di turunkan kepada KA Abdullah atau Ki Mending (Cakraninggrat II), kemudian memberikan keleluasaan kepada para dukun untuk menjalankan hukum adat dan tradisi istiadatnya. Langkah-langkah untuk mengIslamkan para dukun di ambil langsung oleh putra Mahkota KA Siasip yang semestinya beliau menjadi raja tapi beliau menolak dan tetap bertekad menjadi Penghulu Agama Islam).
      
       KA Bustam, meskipun sudah Islam, juga adalah penerus ajaran tradisi ramondanya (Ramonda KA Bustam), Ki Mending atau KA Abdullah belajar Islam dari Kakeknya Ki Ronggo Yudho atau Datuk Mayang Geresik yang berasal dari Jawa Timur. Ki Mending atau Depati Cakraninggrat ke III, adalah raja yang mengendalikan sistem pemerintahan secara kebatinan atau mistis. Karena itulah beliau memberikan kewenangan kepada seluruh dukun untuk melaksanakan sistem hukum adat dan tradisi di tiap wilayahnya secara mistis.
      
       Setelah KA Bustam menjadi raja menggantikan Abangnya KA Gending yang wafat tahun 1700, di Pamanukan Jawa Barat semestinya anak dari KA Ganding yang menjadi raja yaitu KA Siasip, tapi beliau lebih memilih jadi Penghulu Agama Islam, KA Siasip belajar pada mubaliq yang datang dari Samudra Pasai, KA Bustam kurang menyukai ajaran mubaliq dari Samudra Pasai, kemudian beliau mengusir salah seorang guru KA Siasip yaitu Syehk Said Yassin.
      
       Selanjutnya pula membunuh Syehk Abubakar Abdullah atau Datuk Gunong Tajam, dalam cerita lisan rakyat, Syehk Abubakar Abdullah yang bergelar Datuk Gunong Tajam atau Tuk Pasai adalah seorang sakti yang banyak memiliki murid yang terkenal sakti pula, salah satu muridnya adalah Tuk Kundo.
      
       Diceritakan juga bahwa, Sultan Johor dan sekutunya, Raja Alam Harimau Garang pernah menyerang Bangka Belitung untuk membasmi bajak laut. Pada saat yang bersamaan, Johor juga menggunakan kesempatan untuk menyebarkan agama Islam. Bajak laut berhasil dibasmi dan agama Islam juga berhasil dikembangkan.