Selasa, 8 Mei 2018 00:00

Mencermati Dampak Ekonomi Mikro Dari Sebuah Pesta Rakyat

 

Pesta Rakyat adalah perayaan besar tahunan di kampung-kampung dengan melibatkan seluruh warga yang diawali dengan berdoa bersama (selamatan/syukuran) untuk keselamatan dan keberkahan atas hasil panen/hasil laut yang melimpah.Biasanya pesta rakyat diringi dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya seperti kerja bakti, ziarah kubur , perlombaan-perlombaan, pertunjukan seni budaya tradisional dan pameran produk-produk lokal. Pesta rakyat juga menjadi momen silatrahmi antar sesama warga masyarakat.

Di Kabupaten Belitung, ada beberapa pesta rakyat yang sering dilaksanakan seperti Maras Taun, Selamatan Kampung, Pesta Nelayan, Muang Jong, dan sebagainya. Namun seringkali dalam penyelenggaraannya tidak berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Hal ini dikarenakan penyelengga hanya terfokus pada satu hal saja yaitu kesuksesan acara inti dan jarang memperhatikan kegiatan/acara pendukung. Penyebabnya adalah keterbatasan anggaran/biaya penyediaan stand /kios pameran dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang cara memanfaatkan peluang (kurang kreatif).

Sebenarnya keterbatasan anggaran/biaya pembuatan stand bisa diatasi dengan kreatifitas yang tidak terbatas. Tidak harus triplek, balok, seng, kaca dan bahan bangunan lainnya hanya untuk membuat stand. Triplek, bisa diganti dengan kardus-kardus bekas yang diberi cat warna-warni lalu dilapisi plastik bening agar tahan air. Balok bisa diganti dengan kayu perancah yang jauh lebih murah dan seng, bisa diganti terpal ukuran kecil. Toh stand tersebut hanya untuk beberapa hari saja (bukan tahunan). Biaya-biaya kecil seperti paku, lem, dan lainnya, tentu saja sudah pasti ada tetapi paling tidak, kita sudah berbuat dari pada tidak sama sekali.

Kurangnya pemahaman pihak penyelenggara tentang cara memanfaatkan peluang (tidak kreatif) merupakan faktor utama ketidakmaksimalan pemanfaatan momen pesta rakyat. Pernyataan-pernyataan tidak mendidik seringkali menjegal perubahan pola pikir yang bermuara pada perubahan perekonomian (pendapatan) misalnya, “ Ah, yang penting selesai” atau “ Untuk apa mengurusi jualan orang lain, yang dapat mereka, kita tidak”.

Ayolah! Sungguh disayangkan jika sebuah even besar seperti pesta rakyat yang diketahui mampu menyedot ribuan pengunjung dengan promosi yang dilakukan sedemikian gencar berlalu begitu saja tanpa memberikan efek apa-apa terhadap perekonomian masyarakat lokal. Mereka (pengunjung) datang, lalu pulang tanpa membawa tentengan (oleh-oleh). Benarkah ini?. Seharusnya, mereka itu belanja sebanyak mungkin di sini. Mereka harus menghabiskan uangnya di pameran ini. Titik. Dengan begitu, ada timbal balik (manfaat) yang diterima oleh semua pihak dari kegiatan-seperti ini.

Jika mau hitung-hitungan, angka-angka fantastis akan kita dapatkan pada sebuah pesta rakyat yang dihadiri oleh 3000 pengunjung. Jika 1000 orang dari mereka membelanjakan uangnya sebesar Rp. 150.000,- maka jumlahnya sudah pasti Rp. 150.000.000,-. Jika  setiap pengunjung menghabiskan uang rata-rata Rp. 200.000,- maka uang yang beredar pada hari tersebut adalah Rp.200.000.000,-. Begitu seterusnya hingga kelipatan yang paling tinggi. WAUU! Bukankah ini luar biasa? Itu baru 1000 orang, Bagaimana jika lebih?

Marilah kita bersama-sama membuka wawasan kita, mengganti pola pikir sederhana dengan pola pikir luar biasa agar setiap even/kegiatan-kegiatan besar benar-benar memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat kita disamping melaksanakan ritual-ritual budaya yang memang harus kita jaga dan lestarikan.

 

 

Sumber:


Komentar Berita

Kirim Komentar

Nama
Komentar
Security Code