Selasa, 3 Desember 2013 00:00

WISATA MICE

Wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition) bila diartikan secara bebas yaitu kegiatan wisata konvensi/usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran yang merupakan usaha kegiatan memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendikiawan dsb) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
    Hal tersebut dikemukakan oleh Christina L. Rudatin, seorang Education and Training Director di Indonesia Congress & Convention Association (INCCA) dan juga dosen di Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Administrasi Niaga dalam materinya pada kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi MICE Tahun 2013 di Hotel Bahamas Tanjungpandan awal bulan november lalu yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Kepulauan Bangka Belitung. Menurut Christina, MICE dapat diartikan juga sebagai sebuah ‘bisnis even’ yaitu “ritual spesifik, presentasi, tampilan, perayaan atau bentuk kegiatan apapun yang secara sadar direncanakan dan dirancang untuk menjadi sebuah acara khusus sebagai sebuah peringatan atau dalam rangka mencapai tujuan baik sosial, budaya atau tujuan organisasi”. Beliau menyampaikan juga bahwa wisata MICE merupakan bisnis yang sangat menjanjikan karena Belitung dirasa siap dengan melihat pertumbuhan sarana dan prasarana pariwisata Kabupaten Belitung yang harus disertai peningkatan kualitas SDMnya.
    Seperti diketahui bersama bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan wisata MICE, sehingga dianjurkan agar tempat wisata untuk memanfaatkan areanya sebagai sarana MICE karena wisata MICE tidak hanya terbatas pada rapat di hotel atau ruang pertemuan saja, tempat-tempat terbuka pun dapat dijadikan sebagai destinasi MICE yang akan menawarkan suasana berbeda. Adapun pertimbangan dalam pelaksanaan MICE di suatu destinasi itu meliputi (Kesrul 2004:9) :   1. Penetapan lokasi dan ruang MICE, seperti pertimbangan tempat penyelenggaraan secara geografis dengan lokasi menginap peserta, atau kondisi sekitar lokasi kegiatan;  2. Perlengkapan fasilitas MICE: tidak ada standar yang berlaku untuk umum dalam menentukan jenis perlengkapan fasilitas dan pelayanan kesekretariatan, namun haruslah diperhatikan beberapa hal seperti: Jenis pertemuan, Jumlah peserta, Jumlah ruangan yang dibutuhkan dst; 3. Penanganan transportasi: beberapa transportasi yang harus diperhatikan seperti: Transportasi udara, Airport shuttle service, Lokal tour, dst; 4. Pelayanan makanan dan minuman, yaitu seperti penempatan reguler food and beverage, room service and banquet capabilities, kemudian kualitas makanan dan minuman, ketersediaan stok pelayanan dan ketrampilan, dsb; 5. Akomodasi, meliputi seperti akomodasi peserta, tipe kamar, jumlah kamar/tempat tidur, kamar gratis untuk panitia atau komite maupun kamar khusus untuk tamu resmi.
    Dari data terakhir hingga saat ini jumlah hotel dan penginapan yang ada pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung, terdapat 32 hotel yang telah memiliki Surat Ijin Kepariwisataan Bidang Usaha Perhotelan, diantaranya termasuk juga beberapa hotel berbintang 4. Hal ini menandakan antusiasnya para investor untuk memajukan pariwisata Kabupaten Belitung yang tentu saja merupakan salah satu point penting dalam pelaksanaan MICE di suatu destinasi. Bidang usaha lainnya, Pemerintah Daerah Kab. Belitung juga tengah berbenah diri untuk mengembangkan obyek wisata yang dikelola langsung dalam bentuk UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) seperti Kolam Renang Dayang Sri Pinai dan Kolong Keramik. Melihat potensi Kolong Keramik yang memiliki sarana bangunan pertemuan yang dilengkapi dengan bangunan kuliner dan juga wahana tirta. Jadi siapkah Kabupaten Belitung menjadi destinasi MICE selanjutnya?
(francis).

Sumber:


Komentar Berita

Kirim Komentar

Nama
Komentar
Security Code