Kamis, 21 Februari 2019 08:00

Pertama Kali di Belitung, Festival Cap Gomeh Berlangsung Meriah

Cap Go Meh adalah malam ke-15 (lima belas) dan merupakan malam terakhir perayaan dari Imlek bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang artinya 15 hari atau malam setelah Imlek. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam. Di negara Tiongkok, Festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi atau dewa tertinggi di langit yang dipercaya pada masa pemerintahan Dinasti Han (206 SM – 221 M). 
Belitung tak ketinggalan, Festival Cap Go Meh yang baru pertama kali diadakan oleh masyarakat Tionghoa berlangsung sangat meriah. Bertempat di Taman Hiburan Tanjungpendam pada hari Rabu  malam tanggal 20 Februari 2019, Festival Cap Go Meh menjadi semakin semarak dengan adanya pesta kembang api yang berlangsung cukup lama. Hadir dalam festival ini adalah Bapak Eksan, S.Sos (Kasubbid Area II B) dari KEMENPAR RI, Wakil Bupati Belitung (Isyak Meirobie, S.Sn) yang merupakan tokoh masyarakat Tionghoa di Belitung, Kepala  Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Ir. Hermanto, para pelaku usaha pariwisata Belitung, Anggota DPD RI Prov. Bangka Belitung, Tellie Gozelie, unsur FORKOMINDA, dan lainnya. 
Dalam sambutannya Wakil Bupati Belitung mengatakan bahwa festival ini adalah untuk mempererat tali silatuhrahmi antar sesama umat beragama dan kedepan akan diselenggarakan lebih meriah sekaligus sebagai bagian dari promosi pariwisata Belitung ke luar. 
“Tahun depan festival ini diharapkan dapat menarik wisatawan yang berlimpah ruah. Dengan perencanaan yang matang, ketersediaan anggaran, festival ini akan dikemas lebih menarik nanti. Ini adalah kegiatan KEMENPAR RI yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Belitung, Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, pelaku usaha pariwisata, tokoh budaya serta masyarakat Tionghoa. Belitung harus menjadi referensi keberagaman di Indonesia dan menjaganya itu yang sulit. Kaitannya dengan pariwisata adalah hospitality, yang siaran utamanya adalah aman dan harmonis” ujarnya panjang.  
Dalam perayaan-perayaannya di berbagai belahan dunia, Festival Cap Go Meh selalu meriah. Tarian naga, atraksi barongsai, permainan-permainan selalu menyemarakkan festival yang berhiaskan ratusan lampion ini dan satu yang paling khas adalah menyantap kue Nian Gao atau biasa disebut dengan Kue Keranjang dalam bahasa Belitung. (ruaida)
Sumber:


Kirim Komentar

Nama
Komentar
Security Code