Selasa, 20 Agustus 2019 00:00

Tradisi dan Ritual Sembahyang Rebut Masyarakat Etnis Tionghua di Belitung

Bulan ke-7 dalam penanggalan kalender Lunar ( kalender Imlek ) merupakan bulan yang sakral bagi kepercayaan etnis Tionghua khususnya umat beragama Kong Hu Cu, karena pada bulan ini adalah bulan dimana pintu alam baka terbuka lebar dimana arwah-arwah yang berada didalamnya turun kedunia dan bergentayangan. Menurut kepercayaan, arwah-arwah yang turun adalah arwah yang tidak mempunyai sanak famili nya lagi di dunia dalam keadaan terlantar dan tidak terawat. Kedatangan para arwah kedunia tentunya dikawal oleh Dewa Akhirat "Thai Se Ya" yang bertugas menjaga arwah -arwah tersebut agar tidak berbuat onar di Dunia.
Oleh sebab itu, manusia akan mengadakan ritual berupa pemberian bekal makanan, minuman maupun buah-buahan dan daging untuk menyantuni arwah terlantar tersebut agar mendapat ketentraman dan  tidak mengganggu kehidupan manusia.
Puncak Perayaan Chinese Ghost Festival bertepatan dengan bulan purnama yaitu tanggal 15 bulan ke-7 kalender imlek (tjit nyet pan), atau bertepatan dengan hari Kamis,15 Agustus 2019 bertempat di Kelenteng Hok Te Che, Siburik Kelurahan Kota, Tanjungpandan Belitung. Masyarakat Etnis Tionghua berbondong-bondong untuk bersembahyang mendoakan para arwah terlantar tersebut agar mendapatkan tempat yang layak dan kembali ke alam baka dengan damai tanpa mengganggu umat manusia di dunia.
Tepat pada tengah malam ritual akhir dimulai dengan ritual rebutan sesaji atau yang biasa dikenal sebagai sembahyang rebut yang diikuti oleh seluruh pengunjung. Ritual ini bermakna agar seluruh pengunjung yang berhasil mendapatkan persembahan dalam ritual ini juga akan mendapatkan berkah pada kehidupannya. Setelah prosesi sembahyang rebut, tepat pada pukul 00.00 (pergantian hari) adalah pembakaran patung Dewa akhirat "Thai Se Ya" beserta dengan kapal-kapal yang membawa para arwah dengan maksud untuk mengantar kembali arwah-arwah tersebut ke Alam Baka dan menutup kembali Gerbang Akhirat.
Sembahyang Rebut juga berdampak sosial bagi masyarakat untuk saling gotong royong, memiliki rasa tanggung jawab, dan peduli terhadap sesama dengan membagi-bagikan sembako kepada masyarakat yang kurang mampu. Tradisi ini merupakan tradisi unik dan mistis oleh masyarakat Etnis Tionghua yang ada di Belitung, yang tentunya juga semakin memperkaya keunikan Tradisi dan Budaya yang dimiliki Belitung.
(suikim)
Sumber:


Kirim Komentar

Nama
Komentar
Security Code